Perjalanan Inspiratif Paklek Cireng Legendaris Hery Sunarto
Teks Foto : Cireng Legend Paklek Hery. (Rizka)
elokaltim.com, KUTAI KARTANEGARA – Nama Hery Sunarto, atau lebih akrab disapa Paklek Hery, mungkin sudah tidak asing lagi bagi warga Tenggarong, khususnya di kalangan generasi milenial akhir dan gen Z. Pria berusia 58 tahun ini dikenal sebagai “Paklek Cireng Legend” berkat konsistensi dan ketekunannya menjual cireng sejak tahun 1996. Kisah hidupnya yang penuh perjuangan menjadi inspirasi bagi banyak orang.
Paklek Hery memulai usahanya dengan modal yang sangat sederhana, hanya bermodalkan sepeda ontel dan empat kilogram tepung kanji perharinya. “Dulu cuma balik modal aja,” kenangnya. Namun, semangatnya tidak surut. Ia mencoba meningkatkan produksinya menjadi delapan kilogram, hingga akhirnya usahanya mulai memberikan keuntungan. Dan kini, omzetnya bisa mencapai ratusan ribu hingga jutaan rupiah setiap harinya.
Sebelum menemukan kesuksesan dengan cireng, Paklek Hery sempat bergonta-ganti usaha. Ia pernah menjual balon gas dan berbagai jajanan lainnya. Namun, biaya operasional yang tinggi membuatnya berpikir untuk beralih profesi. “Setiap belanja harus ke Samarinda, dan itu makan banyak biaya,” ujarnya. Akhirnya, ia memutuskan fokus berjualan cireng sejak tahun 2005.
Resep cireng yang dijualnya adalah hasil racikan sendiri setelah melalui berbagai eksperimen. Dengan perpaduan tepung kanji, tepung terigu, telur, dan bumbu-bumbu lain, Paklek Hery berhasil menemukan formula yang pas. “Alhamdulillah, lama-lama ketemu juga selanya. Ini resep original saya sendiri,” jelasnya bangga.
Paklek Hery kini lebih sering berjualan di Jalan Mulawarman, tepat di depan SMAN 1 Tenggarong. Ia memulai aktivitasnya dari pukul 08.30 pagi hingga 17.30 sore. Namun, seringkali dagangannya habis sebelum waktu tutup. Konsistensinya dalam menjaga kualitas produk membuat cirengnya selalu diburu pelanggan.
Saat ini, Paklek Hery juga aktif mempromosikan jualannya melalui akun Instagram pribadinya di @hery.sunarto dan menerima pesanan melalui kontak WhatsApp di 0895619039816. Inisiatif ini datang dari anak-anaknya yang membantu mengembangkan usahanya mengikuti perkembangan zaman untuk menjangkau lebih banyak pelanggan.
Bagi Paklek Hery, usaha ini bukan hanya soal mata pencaharian. Dari berjualan cireng, ia berhasil menyekolahkan kedua anaknya hingga perguruan tinggi. “Alhamdulillah, sekarang anak-anak saya sudah kerja. Ada yang jadi perawat di puskesmas, dan ada yang di kantor kependudukan,” ungkapnya penuh syukur.
Namun, perjalanan hidup Paklek Hery tidak selalu mulus. Dari empat anaknya, dua di antaranya telah meninggal dunia. Meski begitu, ia tetap tegar dan bersyukur atas rezeki yang diberikan. “Hidup ini harus disyukuri, sedikit-sedikit jadi berkah,” tuturnya.
Sebagai seorang pedagang, Paklek Hery sangat menjunjung tinggi kepercayaan pelanggan. Ia selalu memastikan bahwa produknya aman dan halal. “Alhamdulillah, sudah ada izin usaha dan sertifikat halal. Dari puskesmas dan BPOM juga sudah dicek, semuanya aman,” jelasnya.
Di balik kesederhanaannya, ada pesan mendalam yang ingin disampaikan Paklek Hery kepada masyarakat. “Harapan saya, mudah-mudahan makin banyak pelanggan yang datang. Saya akan terus menjaga kepercayaan mereka karena itu kunci utama keberhasilan,” katanya.
Kisah Paklek Hery adalah bukti bahwa kerja keras dan ketekunan dapat membuahkan hasil. Dari sepeda ontel hingga menjadi legenda cireng, ia menunjukkan bahwa setiap usaha yang dijalankan dengan hati pasti membawa berkah. (rl)




